Berdiri megah, indah, unik, serta mengagumkan adalah ciri yang tertuang pada
Masjid Raya Al Mashun, Medan, Sumatera Utara. Keunikan bangunan suci ini terlihat dari adanya perpaduan gaya arsitektur yang berasal dari berbagai negara. Tak heran, selain sebagai tempat ibadah, masjid ini selalu ramai dikunjungi orang yang hendak mengetahui lebih jauh tentang keunikan dan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.
Selain sebagai salah satu peninggalan sejarah
Kesultanan Deli, masjid ini merupakan salah satu peradaban perkembangan Islam di Medan. Oleh karena itu, gaya arsitektur yang menghiasi bangunan kokoh ini memiliki ciri-ciri layaknya bangunan di negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan India.
Masjid yang diarsiteki oleh seorang warga berkebangsaan Belanda ini memiliki bentuk segi delapan (oktagonal) yang dilengkapi dengan empat bangunan sayap. Keempat bangunan sayap tersebut menempel di bagian timur, selatan, barat, dan utara. Bentuk keempat bangunan sayap tidak berbeda dengan bangunan utama hanya ukurannya yang lebih kecil. Keberadaan bangunan sayap yang melengkapi bangunan utama merupakan salah satu konsep bangunan masjid kuno yang ada di Timur Tengah.
Kubah masjid ini pun sangat unik. Bentuknya tidak bulat seperti umumnya masjid-masjid yang ada di Tanah Air, melainkan berbentuk segi delapan dan agak gepeng. Terdapat lima kubah, satu kubah utama dengan ukuran besar dan lainnya berukuran lebih kecil yang terdapat pada bangunan sayap. Kelima kubah tersebut puncaknya dilengkapi dengan hiasan bulan sabit.
Pengunjung yang masuk ke dalam bangunan utama akan mendapati delapan tiang terbuat dari marmer. Berbentuk bulat berdiameter sekita satu meter ditambah sentuhan seni di bagian atasnya, tiang ini mencerminkan gaya bangunan yang terdapat di Italia, Spanyol, dan negara Eropa lainnya.
Masjid yang selesai dibangun pada 1909 ini berdiri megah di area kompleks Istana Maimun. Di dalamnya juga terdapat mimbar yang dilengkapi dengan kubah kecil keemasan dan beberapa anak tangga. Banyaknya pintu yang luas di tiap sisinya, kecuali di dinding sebelah barat yang dijadikan mihrab, membuat udara yang ada di bangunan utama ini tetap terjaga kesegarannya.
Jendela besar yang terdapat di dinding-dindingnya tampak menarik karena dilengkapi kaca berornamen dan bingkai kaca yang diberikan sentuhan seni yang tinggi. Hiasan berupa ukiran bunga dan tumbuh-tumbuhan turut menghiasi dinding, pintu, jendela, langit-langit dan sisi lainnya.
Bila dilihat dari luar area masjid, tampak gapura besar yang didominasi warna hijau berdiri megah. Taman hijau dengan lampu-lampu yang tinggi pun turut andil dalam memberikan kenyamanan bagi yang sedang bertamu di bangunan bersejarah tersebut.
Bila melintasi jalan raya yang berada di sekelilingnya, sekilas masjid ini tampak memiliki ciri bangunan bergaya Timur Tengah. Namun, setelah mendekat dan masuk ke masjid tersebut, unsur bangunan seperti pintu, jendela, dan tiang mencirikan gaya arsitetur Eropa.
Edit Post
Ditulis oleh:
Unknown -
12/17/2012 - Rating:
4.5
Terima kasih sudah membaca artikel kategori wisata
dengan judul Berpadunya Budaya dalam Bangunan Religi. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://akses-berita.blogspot.com/2012/12/berpadunya-budaya-dalam-bangunan-religi.html. Jangan lupa share ke teman-teman ya.